Minggu, 18 April 2010

CINTA, SUKSES DAN HARTA

Saat itu musim semi yang indah. Di sebuah tempat, dengan bintang-bintang tengah asyik bermain di atasnya diantara tembok-tembok alam berkelilingkan hiruk pikuk manusia. Di antara hentakan kaki-kaki kehidupan, di antara hamparan kota-kota nan luas, dan pada sebuah jeda yang indah.
Terlihat sebuah persinggahan nan menawan. Tampak seorang perempuan tengah keluar darinya. Dialah sang pemilik persinggahan itu. Ia keluar untuk sekedar malihat-lihat keadaan di sekeliling rumahnya.
Tiba-tiba terlihat olehnya tiga sosok laki-laki, ketiganya berpenampilan sopan dan beradab. Mereka tengah duduk-duduk di pagar rumahnya. Ia pun mendatangi mereka, dengan perasaan bertanya- tanya, “Ada perlu apa mereka?”, “ Mereka sepertinya orang asing siapa mereka?” “Siapa yang tengah mereka tunggu?”.
Ia melangkah ragu-ragu, kemudian ia uluk salam dan mulai membuka pembicaran, “ Kalian sepertinya asing, apakah kalian bukan orang sini?”.
Satu dari mereka tersenyum, lalu membalas salamnya. Ia jelaskan bahwa benar, mereka adalah orang asing. Kemudian ia melanjutkan dengan menyakan, apakah si pemilik rumah (yang laki laki ) ada di dalam
“Ia bekerja sekarang, sore nanti baru pulang”, jawab sang ibu
Dengan segala hormat dan kesantunan, mereka tersenyum dan mengatakan akan bersedia menunggu hingga sore nanti. Ibu itu pun kemudian masuk ke rumah
“Tamu-tamu itu ternyata datang kepada kami”, bisiknya dalam hati, “Aku harus menyiapkan makanan terlezat serta menata rumah, agar sore nanti sewaktu suamiku datang, ia dan tamu-tamu itu dapat menikmati suasana yang nyaman”.
Saat sang suami pulang, ia melihat tiga laki-laki itu di pelataran rumahnya, tepat di samping pagar. Ia masuk rumah, kemudian bertanya pada istrinya, “Siapa tiga orang di luar itu? Mereka sepertinya asing”. “Iya”, jawab sang istri
Lalu istrinya menceritakan perihal tamu-tamu itu bahwa mereka tengah mencari dirinya, dan agaknya mereka datang dari jauh.
“Keluarlah, panggil mereka masuk untuk makan malam”, katanya kepada sang istri. Istrinya keluar, lalu mengajak mereka masuk, “Suamiku telah pulang, ia meminta kalian untuk makan malam”. Salah satu di antara mereka angkat bicara, ia mulai dengan memperkenalkan diri, “Saya adalah Cinta, ini Sukses, dan yang ini bernama Harta, kami terima ajakanmu. Tapi wahai Nyonya, kembalilah ke suamimu, tanyakan siapa yang akan ia pilih untuk makan bersamanya malam ini. Terima kasih”.
Ia pun kembali pulang dan menyampaikan pertanyaan itu ke suaminya. Ia makin bingung. Sembari meninggalkan tempat itu, ia ulang-ulang menyebut nama ketiganya dalam hati, “Cinta-Sukses- Harta.., pilih satu dari mereka”.
“Iya, silakan pilih…”, katanya pada sang suami
Suami itu berkata, “Kita panggil “Harta”. “Kita akan bahagia dengan kejayaan yang di bawanya. Dengan kelimpahan harta, kita akan bayar hutang-hutang kita. Dan dengan harta kita akan bisa mewujudkan seluruh impian”.
Istrinya menolak, “Wahai sayangku, biarlah kita memilih “Sukses”. “Kita akan menikmati kesuksesan pada hubungan kita, demikian juga pada pekerjaan kita. Kita akan sukses dalam berbagai hal. Kita akan punya cukup harta, kita juga akan buka kesuksesan-kesuksesan lain”.
Sang suami kembali bimbang setelah mendengar pendapat istrinya itu. Di tengah kebimbangan itu, tiba-tiba muncul menantunya, yang ternyata telah mendengar dan mengikuti pembicaraan itu dari awal. Ia berdiri dan mulai terlibat dalam obrolan. Dengan setulus hati dan jujur, ia angkat bicara, “Paman, saya sarankan paman memilih “Cinta”. Dengan cinta kita akan hidup nyaman, dengan cinta kita akan hidup bahagia, kita akan penuhi seluruh masa dengan gembira. Cinta akan membuat kita tidak lagi risau dengan jumlah harta yang kita yang punya. Cinta akan mengantar kita untuk meraih kesuksesan sebesar-besarnya. Cinta akan membuat kenangan kenangan indah pada hidup kita. Saya harap paman mau memilih cinta”.
Laki-laki itu tersenyum, tak menunggu lama ia putuskan sebuah pilihan, “Iya, kita pilih Cinta”.
Istrinya keluar menemui tamu tamu itu, “Mana yang bernama Cinta?”, tanyanya. Cinta berdiri dan menyahut, “Saya, Bu”.
“Silahkan masuk, suamiku memanggilmu untuk makan malam”.
Namun kejanggalan terjadi, setelah Cinta maju beberapa langkah, tiba-tiba Sukses bangun dan menyusulnya, Harta pun bangun kemudian menyusulnya juga.
Sang ibu kaget melihat apa yang terjadi, “Tadi “Sukses” mengatakan bahwa kami harus memilih satu di antara kalian, tapi mengapa sekarang begini?”.
“Benar Bu”, salah satu di antara mereka mulai menjelaskan, “Jadi, bila Sukses yang kalian pilih, maka hanya sukses yang akan masuk ke rumah kalian, sedang Cinta dan Harta tetap tinggal di sini. Demikian juga bila kalian memilih Harta, maka Cinta dan Sukses tetap tinggal di sini. Namun bila Cinta yang kalian pilih, saat dia masuk rumah kalian maka sukses dan harta akan masuk pula menyusulnya, kemana pun dan bagaimana pun. Kalian menjatuhkan sebuah pilihan yang tepat”.



0 komentar:

Posting Komentar